BeberapaMasalah Karir dan Solusinya. Hidup ini penuh tantangan dan masalah, tantangan inilah yang membangun karakter seseorang. Apakah tantangan dan masalah tersebut membuat Anda menyerah, ataukah justru menjadi pemicu semangat Anda dalam mencari solusi. tapi bisa juga berbagai aktifitas yang positif yang dilakukan selama menjadi mahasiswa MALANG - Pandemi Covid-19 menyebabkan sistem pembelajaran berubah menjadi dalam jaringan daring sepenuhnya. Situasi ini telah menimbulkan empat masalah bagi mahasiswa di berbagai perguruan dari Universitas Brawijaya UB, Ari Pratiwi mengatakan, kuliah daring menyebabkan berbagai permasalahan mulai dari kecemasan hingga stress. Pada faktor akademik misalnya, mahasiswa mengalami kesulitan atau kurang jelas dalam memahami materi yang diberikan dosen. Ini bisa disebabkan media belajar hanya berupa Power Point PPT atau suara teks koneksi internet belajar juga dapat disebabkan oleh sinyal internet untuk daerah tertentu yang bermasalah. Hal ini membuat mahasiswa mengalami kesulitan mencari informasi tugas dan mengikutinya. "Serta juga bisa disebabkan banyaknya tugas tidak sebanding dengan minimnya penjelasan dosen," ucap daring juga menyebabkan masalah pribadi seperti pola pikir negatif dan over thinking. Kemudian selalu merasa cemas, stress, tertekan dan kesepian. Situasi ini bisa karena masalah akademik, kondisi Covid-19, keluarga dan keluarga mahasiswa juga bisa mempengaruhi kualitas belajar mahasiswa selama mengikuti pembelajaran daring. Mereka misalnya sedang terlibat konflik permasalahan dengan keluarga yang tidak diinginkan. Lalu lingkungan keluarga yang tidak mendukung, masalah ekonomi atau keuangan karena beberapa orang tua tidak bekerja atau penghasilan menurun karena Covid-19. "Serta adanya pola asuh otoriter, keras, dan tradisional sehingga membuat mahasiswa tertekan," pada faktor sosial, mahasiswa misalnya tidak dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga merasa kesepian terisolasi dan tertekan. Kemudian mengalami perasaan bosan di rumah terus-menerus dan kurangnya komunikasi dengan orang membantu permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa, Ari menyebutkan, beberapa tips yang bisa dilakukan oleh dosen penasihat akademik. Menurut Ari, mahasiswa pada dasarnya hanya ingin didengar oleh orang. "Terkadang dengan kita menjadi pendengar si mahasiswa yang sedang melakukan konseling bisa menemukan permasalahannya sendiri," kata masalah mahasiswa junior, dosen penasihat akademik harus mampu menjaga rahasia. Dosen perlu memanfaatkan jaringan pertemanan dan memperkuat hubungan remaja dengan menyelami dunia remaja. Salah satunya dengan mencari tahu tren remaja terkait bahasa gaul dan media untuk mahasiswa tingkat akhir atau senior, dosen pembimbing akademik harus menggali informasi seperti masalah yang dihadapi. Kemudian mencari tahu sejarah, dan psikososial latar belakang keluarga dan peristiwa siginifikan. Dosen pembimbing akademik diharapkan memiliki pengetahuan dalam berbagai bidang, terutama masalah pernikahan dan Pascasarjana UB, Andi Hartik berpendapat, pembelajaran daring sebenarnya memiliki sisi untung dan rugi tersendiri. Sisi untung dapat dirasakan oleh mahasiswa yang sambil bekerja. "Kuliah daring menguntungkan karena kuliah bisa di mana saja," ungkap pria asal Madura ini kepada Republika, Senin 23/8.Di sisi lain, kuliah daring kurang mampu membangun ikatan emosi yang utuh antara dosen dan mahasiswa. Padahal aspek ini penting dibentuk agar transfer ilmu bisa berjalan maksimal. Dengan ikatan emosional yang kuat, pemahaman keilmuan bisa tersampaikan dengan baik kepada mahasiswa. BACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini
SocialDevelopment Talks: Mengurai Masalah dan Solusinya dalam Pembangunan yang Berkeadilan di Indonesia Yogyakarta, 24 Februari 2022–Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) Fisipol UGM mengadakan Social Development Talks (SODET) edisi Februari dengan tajuk “Mengarusutamakan Pembangunan yang Berkeadilan” pada Kamis (24/02).
Merasa malas belajar? Berpikir belajar itu gak penting? Berikut adalah pembahasan masalah dalam belajar dan tips yang bisa menjadi solusi kesulitan belajar. Halo Zenius fellow, ketemu lagi sama gue nih! Semoga lo semua belum bosen ya ngeliat foto gue ngejejer di Zenius Blog dalam tiga artikel terakhir P. Nah, dalam kesempatan kali ini gua mau nulis topik yang lo semua udah bisa tebak dari judul tulisan ini, yaitu masalah utama dalam belajar dan solusinya. Buat kalian para pembaca Zenius Blog yang sekarang ini masih menyandang status pelajar, rasa-rasanya “belajar” itu udah jadi makanan sehari-hari lo semua. Ya mau gimana lagi, sebagai manusia yang menyandang status sebagai pelajar, lingkungan lo otomatis menuntut lo untuk rajin belajar, dari mulai guru, orangtua, kakak, om-tante, kakek-nenek, dan sebagainya… “Hayooo kamu belajar yang rajin sana! Jangan kebanyakan nonton si Lee Min-Ho atau Nabilah terus! Kalo nilai di sekolah kamu bagus, kan mama bisa banggain prestasi kamu pas arisan tetangga!” – Mama Haduuuh, ngomong sih gampang Maa… belum tau aja si mama kalo belajar baca nyerap ilmu itu gak semudah ngabisin makanan di balik tudung saji. Belajar apalagi belajar yang efektif itu emang gak mudah, ada buanyaak banget masalah dalam hambatannya. Dari mulai ngumpulin niat buat belajar aja udah jadi masalah tersendiri, belum lagi catetan gak lengkap, masalah lagi deh. Kadang baru mulai buka buku 2 halaman aja udah ngantuk iya, ngantuk juga kan masalah, terus kalo kita coba paksain baca tetep aja gak ngerti, coba dihafalin tapi gak masuk-masuk. Coba langsung ngulik latihan soal bingung harus mulai jawabnya dari mana. Akhirnya? ya nonton Lee min-hoo atau Nabilah lagi deh! Huahaha… Okay Guys cukup becanda garingnya, karena dalam artikel Zenius Blog kali ini gua mencoba untuk merangkum hal yang amat-sangat-serius sekali-banget. Yaitu “Enam masalah utama dalam belajar + beberapa tips atau referensi”; yang moga-moga bisa jadi solusi yang pas buat lo. Artikel ini bisa mengubah cara pandang lo tentang cara belajar yang jauh lebih efektif dan juga menyenangkan. Sebetulnya sih, artikel kali ini bisa dibilang adalah bentuk “rangkuman” kompilasi masalah-masalah utama dalam belajar yang udah pernah dibahas dengan cukup lengkap dan detail pada tulisan-tulisan Zenius Blog sebelumnya. Berikut adalah enam list masalah utama dalam belajar yang akan gua bahas Penyakit paling klise MALES!Belajar hanya untuk mengejar nilai akademisMenghakimi diri sendiri “Gue kan emang bukan anak pinter”Benci sama mata pelajaran tertentuCara belajar yang salah Belajar = sibuk hafalin rumus, tahun, istilah, nama orang, dsbSemangat belajar yang nggak konsisten Okay, ada nggak di antara lo yang ngerasa salah satu, beberapa, atau malah semua dari keenam list di atas yang “Wah, ini sih gue banget!”. Kalo ada, mungkin lo bisa coba langsung loncat aja ke masalah yang lo ngerasa “gue banget” itu. Soalnya, jujur aja nih ya, artikel ini emang lumayan panjang dari biasanya. Jadi, mungkin emang lebih efektif kalo lo bacanya lompat langsung ke permasalahan yang ngena sama gaya belajar lo. Tapi, buat lo yang emang ada waktu senggang lumayan lama, atau emang lagi bela-belain luangin waktu baca artikel Zenius, boleh banget kok lo baca artikel ini sampai tuntas. Gua jamin artikel ini akan mengubah cara pandang lo tentang cara belajar yang jauh lebih efektif dan juga menyenangkan, apalagi kalo lo juga luangin waktu buat ngecek link referensi artikel yg gua kasih di setiap list permasalahan. Okay, kita langsung aja mulai dengan pembahasan masalah utama dalam yang pertama 1. Penyakit Paling Klise MALES!2. Belajar Hanya untuk Mengejar Nilai Akademis3. Menghakimi Diri “Gue kan Bukan Anak Pinter”4. Benci sama Mata Pelajaran Tertentu5. Cara Belajar yang Salah6. Semangat Belajar yang Nggak Konsisten 1. Penyakit Paling Klise MALES! Males adalah penyakit paling klasik dalam belajar. Males Belajar! Nah, ini dia nih penyakit paling klasik yang udah menjangkiti umat manusia dari generasi ke generasi. Kadang atau seringnya penyakit yang satu ini kambuh mendadak tanpa kita duga-duga. Udah tau besok mau ulangan, tapi kok rasanya malesss banget buat buka buku, maleeess banget buat latihan soal, pokoknya males banget nyentuh pelajaran deh! Biasanya, guru atau orangtua dengan entengnya bilang “Hayo jangan males belajar, mau jadi apa kamu kalo baru umur segini aja udah males??”. Yah, ngomong jangan males’ sih gampang banget yee, tapi kalo penyakit ini udah menyerang, emang rasanya kok susah banget dilawan. Terus, kita harus gimana dong? Okay, yang jelas sih nasehat ”Jangan males belajar” mau seberapa kali pun lo dengerin nggak akan bikin lo jadi nggak males lagi. Hal pertama yang harus dilakukan dalam menghadapi masalah adalah identifikasi dulu masalahnya! Sekarang apa sih yang menyebabkan seseorang bisa males, atau lebih spesifiknya males belajar?? Kalo sekarang kita coba sama-sama mikir dalam konteks yang umum yah, apa sih yang membuat kita betul-betul Nggak niat melakukan sesuatu? Apa yang membuat kita nggak ada dorongan motivasi sama sekali untuk melakukan hal tersebut? Jawabannya bisa macem-macem, tapi menurut gua yang paling tepat adalah ya karena kegiatan tersebut kita anggap nggak menarik, nggak exciting, membosankan, nggak jelas tujuannya buat apa, dan sebagainya. Hal yang sama juga terjadi waktu kita males belajar. Kenapa kok rasanya berat banget buat buka buku pelajaran? Kenapa kok rasanya beban banget buat ngerjain tugas atau PR? Ya, karena lo menganggap belajar adalah sesuatu hal yang nggak menarik, belajar adalah sesuatu kegiatan yang membosankan, yang nggak jelas tujuannya buat apa, dsb. Pola pikir atau mindset dalem otak lo, itulah penyebab utama dari penyakit males. Nah, terus kalo kita udah tau sebabnya, abis itu gimana dong? Ya kita perbaiki langsung ke sumber masalahnya dong. Caranya dengan mengubah paradigma lo bahwa belajar itu sebetulnya bisa jadi suatu kegiatan yang enjoyable, yang bisa dinikmati, seru, mengasyikan, bikin penasaran, dan bahkan bisa bikin ketagihan! Ketika lo bisa mengubah cara pandang lo, belajar gak akan lagi jadi hal yang membebani lo, gak akan lagi jadi hal membosankan, bahkan lo gak perlu repot-repot mikirin gimana caranya supaya lo termotivasi belajar, karena belajar udah jadi hal yang menyenangkan. Masalahnya sekarang, gimana caranya mengubah paradigma kita tentang belajar, bahwa belajar itu bukan hal yang membosankan tapi justru menyenangkan? Emang bisa yah kita ngubah pola pikir gitu aja? Nah, khusus untuk pertanyaan ini, kita udah pernah bahas masalah ini secara lengkap banget sampai bener-bener tuntas di tulisan Zenius Blog sebelumnya. Gua saranin banget buat lo yang sangat bermasalah sama yang namanya MALES buat baca dua artikel di bawah ini Artikel Rekomendasi Masalah Belajar 1 Apa Sih yang Membuat Kita Termotivasi? 2. Belajar Hanya untuk Mengejar Nilai Akademis Emang apa salahnya sih belajar untuk nilai akademis? Bukannya emang tujuan kita belajar itu cuma buat dapet nilai bagus, membanggakan orangtua, kuliah di tempat bergengsi, terus bisa gampang cari kerjaan yang bergaji besar, dan hidup bahagia selamanya?? Hehehe… hidup itu gak sesimpel itu, sebagaimana manfaat dari belajar juga gak sesempit hanya untuk mendapatkan nilai akademis yang bagus doang. Kenapa gua bilang kalo “Belajar hanya untuk ngejar nilai” adalah masalah utama dalam belajar? Karena nilai dari sebuah tujuan akan sangat berpengaruh pada bagaimana proses kita menjalaninya. Btw, lo pernah denger pepatah kuno yang udah ada turun temurun di kalangan pelajar Indonesia, bunyinya kurang lebih kayak gini “Anak yang nilainya selalu bagus biasanya akan kalah dalam hal kesuksesan karir, finansial, karya hidup, dan sebagainya dengan orang yang nilai waktu sekolahnya biasa-biasa aja.” Percaya atau nggak, menurut gue emang ada benernya juga sih walaupun gak selalu benar. Eit, tapi bukan maksudnya lo jadi nggak boleh rajin belajar yah... yang gua permasalahkan adalah Ketika lo belajar hanya untuk ngejar nilai akademis, lo akan selalu terpaku pada satu indikator yang seolah-olah paling bisa merefleksikan kesuksesan lo dalam proses belajar nilai akademis, padahal sebenernya bukan cuman itu indikator yang harus lo pikirin. Kalo lo cuma terpaku pada satu indikator doang cuman nilai dan prestasi akademis lo akan menutup banyak banget kesempatan dan peluang lain untuk belajar sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekedar nilai doang. Lo nggak akan belajar gimana serunya belajar tanpa perlu disuruh, tanpa mikir bakal keluar di ujian atau nggak, dan lo akan belajar hal yang manfaatnya akan jauh lebih melekat dalam diri lo sampai bertahun-tahun. Sekarang, lo coba deh iseng aja tanyain tutor-tutor Zenius di twitter, apakah waktu mereka SMA atau kuliah nilai akademisnya bersinar terang benderang sampai dinobatkan jadi siswa paling berprestasi?? Sejauh yang gua tau dari obrolan selewat sih, hampir semua tutor Zenius itu dulu nilai akademisnya biasa aja, nggak istimewa banget lah… tapi mereka menghabiskan masa sekolahnya untuk explore lebih banyak hal yang jauh lebih bermanfaat. Belajar memahami dunia lebih jauh, mengembangkan bakat, hobby, ngulik banyak hal yang gak dipelajari di sekolahnya, dan sebagainya. Itulah yang biasa gua bedakan antara studying dan learning, atau subjeknya belakangan ini sering gua sebut sebagai pelajar dan pembelajar. Anyway, buat lo yang masih ngerasa kalo belajar untuk nilai adalah hal yang mutlak harus dilakukan. Apa bedanya studying dengan learning, atau apa bedanya pelajar’ dengan pembelajar’. Gua saranin banget lo buat baca artikel lama Zenius Blog di bawah ini deh, dijamin artikelnya bakal menginspirasi lo Artikel Rekomendasi Masalah Belajar 2 Belajar untuk Nilai atau untuk…? Download Aplikasi Zenius Tingkatin hasil belajar lewat kumpulan video materi dan ribuan contoh soal di Zenius. Maksimaln persiapanmu sekarang juga! 3. Menghakimi Diri “Gue kan Bukan Anak Pinter” “Ah gue kan emang bukan anak pinter, ya mau gimana lagi dong?” “Gue sih emang dari dulu gak pinter hafalan, jadi ya gua males belajar Sejarah dan nilai gue selalu jelek” “Gue kan orangnya dominan otak kanan, jadi wajar dong kalo gue bego urusan itungan seperti pelajaran matematika?” Sikap menghakimi diri sendiri baca fixed mindset ini gua anggep sebagai salah satu masalah utama yang paling gawat dalam belajar. Ibaratnya belum juga bertarung, tapi udah kalah duluan. Dengan lo menghakimi diri lo sendiri, lo seolah-olah menjadikan hal tersebut excuse atau alesan untuk terima nasib gitu aja, dan gak berusaha bangkit untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. Padahal sebetulnya, tanpa lo sadari, mindset seperti itu justru yang membatasi lo dalam belajar, berkembang, dan mengevaluasi diri untuk jadi individu yang lebih baik. Ditambah lagi, seringkali guru bahkan orangtua lo juga memberi afirmasi terhadap justifikasi ini, misalnya dengan mengatakan kalo anak IPA itu dominan otak kiri jadi lebih jago hitung-hitungan, sementara anak IPS itu lebih dominan otak kanan, jadi lebih jago hafalan. Jadilah lo percaya kalo lo dominan otak kiri sehingga gak akan mungkin bisa main musik, atau lo yang otak kanan gak mungkin jago matematika. Padahal sebetulnya, dikotomi otak kanan dan otak kiri itu informasi yang ngaco banget dan udah pernah dibahas di artikel sebelumnya oleh tutor biologi Zenius Kak Pras secara lengkap. Kalo gua perhatiin, ada banyak banget murid zenius yang terjebak dengan pola pikir ini selama bertahun-tahun dan baru sadar setelah kenal sama zenius. Apakah mungkin jangan-jangan lo juga termasuk salah satu yang terjebak dengan pola pikir fixed-mindset seperti ini? Kalo iya, ini bahaya banget dan harus lo atasi sesegera mungkin. Serius, sikap menghakimi diri sendiri ini adalah salah satu masalah utama dalam belajar yang secara gak sadar sangat mempengaruhi persepsi lo terhadap diri lo sendiri. Nah untungnya, Kak Fanny udah pernah ngebahas masalah yang satu ini dari sudut pandang ilmiah secara komplit dan keren banget di artikel Zenius Blog sebelumnya. Buat lo yang ngerasa suka menghakimi diri sendiri, gua saranin wajib banget deh baca dua artikel keren di bawah ini, dijamin nggak akan nyesel! Artikel Rekomendasi Masalah Belajar 3 Iya, gue kan emang bukan anak pinter, terus gimana dong? 4. Benci sama Mata Pelajaran Tertentu Ada nggak sih pelajaran yang lo benci banget sampai-sampai lo muak sama pelajaran tersebut? Believe me, I know how does this feels bro,sist… Emang yee rasanya kalo udah benci sama pelajaran tertentu tuh nyesek banget. Boro-boro mau belajar atau ngerjain latihan soal, nyentuh bukunya aja udah males, dengerin suara langkah guru masuk kelas aja bawaannya udah ngantuk. Kalo ada tugas pasti pengen nyalin punya temen terus, kalo ulangan nyontek, kalo belajar selalu nunda-nunda terus, rasanya nyiksa banget buat maksain belajar. Nggak kerasa, rasa benci ini numpuk terus selama bertahun-tahun makin lama makin akut sampai lo bener-bener muak dan pengen cepet-cepet lulus SMA supaya nggak akan pernah ketemu lagi sama pelajaran tersebut. “Ya tapi mau gimana lagi, kalau udah benci sama pelajaran tertentu terus harus gimana lagi dong? Kalau udah benci, emang bisa sayang?” Well, perasaan benci sama mata pelajaran tertentu kayak gini, emang salah satu masalah utama dalam belajar yang paling susah buat diatasi. Kenapa susah? karena lo harus melawan ego diri lo sendiri untuk keluar dari zona nyaman comfort-zone. Walaupun agak sulit, tapi bukan berarti hal ini nggak bisa dilakukan loh. So, please allow us to lift your burden… Seperti yang gua udah sebutin di atas, langkah pertama untuk mengatasi masalah adalah identifikasi dulu masalahnya, baru kita coba atasi masalah itu tepat di akar permasalahannya. Nah, hal yang menyebabkan lo bisa benci mata pelajaran tertentu itu ada banyak banget, bisa jadi sebetulnya karena lo nggak suka sama cara ngajar gurunya, atau mungkin cara belajar lo salah. Bisa juga karena dari kecil lo terus-terusan kena sugesti dari kakak, temen-temen atau orangtua kalo pelajaran anu itu susah banget prime effect. Bisa juga karena lo nggak bisa nangkep esensi yang menarik dibalik ilmu tersebut, dan lo gak tau apa sebetulnya apa alasan, tujuan, dan kenapa lo harus mempelajari hal itu. Lagi-lagi nih, untuk masalah yang satu ini, Kak Sasa udah pernah ngebahas panjang lebar dengan penjelasan yang enak banget di artikel Zenius Blog sebelumnya. Di artikel tersebut, lo bisa paham lebih detail tentang kondisi psikologis manusia dalam memandang kegiatan yang dia suka/nggak, sekaligus juga tentang gimana cara mengatasinya. Buat lo yang masih bermasalah dalam belajar karena lo benci sama mata pelajarannya, gua sangat menyarankan lo untuk baca artikel Kak Sasa berikut ini Artikel Rekomendasi Masalah Belajar 4 Gimana cara mengatasi pelajaran yang dibenci? 5. Cara Belajar yang Salah Nah ini dia nih, masalah belajar yang paling ngenes di antara yang lain. Ada banyak siswa yang sebetulnya udah cukup rajin, punya semangat yang tinggi buat melawan kemalasan, tapi sayangnya dia menyalurkan waktu dan energinya buat belajar dengan cara yang salah. Lo pernah nggak sih ngerasa udah belajar mati-matian tapi kok ngerasa nggak dapet ilmu apa-apa? Udah belajar siang malem eh tapi nilai ujian jelek, begitu beres ujian, ilmunya lupa semua, begitu ditanya pertanyaan yang nggak ada di buku cetak atau catetan langsung blank nggak ngerti apa-apa. Yak, kalo misalnya lo pernah ngerasain kayak gitu, kemungkinan besar sih cara belajar lo yang keliru. Emang apa aja sih cara belajar yang keliru? Okay, coba gua kasih list-nya sedikit yah… Berikut di bawah ini adalah common mistakes yang banyak dilakukan para siswa Belum ngerti konsepnya secara mateng, tapi udah langsung nyoba latihan hanya pada 1–2 sumber, biasanya sih buku cetak dan hasil nyatet di kelas pas diterangin tipe soal yang dulu pernah ditanyain dalam ujian yang = Sibuk menghafal rumus, tahun, istilah, nama orang, dsb. Nah loh, ada nggak di antara lo yang kalo belajar tanpa sadar ngelakuin salah satu dari keempat point di atas? Atau malah keempatnya semua dilakuin tiap kali lo belajar? Kalo jawaban lo iya, berarti lo udah menghambur-hamburkan waktu dan energi lo selama ini dengan metode belajar yang salah. Cara belajar yang gua sebutin di atas, akan menyebabkan lo akan terus berorientasi pada nilai akademis dan ilmu yang lo dapet akan hilang tepat begitu kertas ujian lo kumpulkan. Kan sayang banget yah, kalo investasi waktu dan energi lo buat meras otak tapi hasilnya cuman segitu doang. Padahal kalo aja lo tau cara belajar yang tepat, dengan usaha yang kurang lebih sama, lo bakal dapet hasil yang jauh lebih optimal. Terus, gimana dong cara belajar yang bener? Emang ada yah cara belajar yang bisa bikin ilmu nempel terus nggak lupa-lupa? Kita di zenius sih punya beberapa resep belajar yang bener-bener bisa bikin ilmu melekat di otak nggak lepas-lepas, biasanya proses belajar ini beken digunakan sama kalangan pengguna zenius secara turun temurun dengan istilah DELIBERATE PRACTICE. Apaan tuh deliberate practice? Singkatnya sih deliberate practice adalah proses belajar yang bener-bener menuntut pemahaman lo secara mendalam untuk kemudian dilatih secara penuh untuk setiap elemen yang terkait dengan ilmu tersebut. Contohnya aja nih, kalo lo mau belajar jago main sepak bola. Lo nggak akan bisa sampai bener-bener jago kalo lo cuma mengandalkan sering-sering main bola sampai temen-temen kompleks. Terus, gimana dong cara belajar yang tepat? Pertama, lo harus melatih skill-skill yang mendasar dulu, seperti membangun stamina, ketahanan fisik yang oke. Baru abis itu lo belajar dulu cara giring bola yang bener, cara nahan bola yang bener, keterampilan kaki kanan dan kaki kiri yang seimbang, dsb. Kalo lo udah punya skill dasar yang oke, baru lo coba latihan tanding sesekali, abis itu lo evaluasi apa aja yang masih jadi kelemahan lo. Itulah cara belajar deliberate practice. Metode belajar seperti main bola itu juga bisa lo lakukan dalam belajar hal apa pun, termasuk juga dalam belajar matematika, fisika, sosiologi, ekonomi, dan mata pelajaran lainnya. Nah, buat lebih jelasnya, lo bisa coba baca beberapa referensi artikel yang pernah ditulis zeniusBLOG sebelumnya tentang cara belajar yang tepat. Buat lo yang sampai sekarang cara belajarnya masih mengandalkan 4 point contoh gua di atas, wajib banget baca artikel di bawah ini Artikel Rekomendasi Masalah Belajar 5 Cara Belajar yang Benar Deliberate Practice! Apa bedanya Deliberate Practice dengan Practice Biasa? Apa Pentingnya Membuktikan Rumus? 6. Semangat Belajar yang Nggak Konsisten Kalo lo udah mengatasi masalah-masalah di atas, artinya lo udah punya persepsi dan cara pandang yang tepat dalam melihat proses belajar. Lo udah tau bahwa belajar adalah sebuah kegiatan yang seru, yang sebetulnya gak perlu dibenci, gak sepatutnya didasarkan hanya pada nilai akademis, dan lo juga udah tau teknik belajar yang tepat. Berarti lo tinggal mengatasi satu masalah terakhir dalam proses belajar, yaitu masalah kedisiplinan. Disiplin yang gua maksud itu bukan berarti segalanya harus tepat waktu, ngikutin jadwal belajar, dsb. Instead, inti dari kedisiplinan itu Lo konsisten dalam ngerjain segala sesuatu sesuai dengan tujuan yang mau lo capai. Itulah kenapa gua taro point masalah ini jadi yang nomor terakhir, karena sebelum lo mengasah kedisiplinan lo dalam belajar, lo harus punya persepsi belajar yang bener dan tujuan yang jelas kenapa lo harus ngelakuin semua hal ini. Sebelum pola pikir lo tentang belajar itu bener, gua jamin lo gak akan pernah bisa punya semangat belajar yang bener-bener konsisten. Okay, terus gimana dong metode yang paling tepat untuk bisa memiliki semangat belajar yang konsisten, untuk bisa memiliki kedisiplinan sehingga lo bisa memanfaatkan waktu lo secara efektif? Nah, untuk masalah ini bakal bisa jadi panjang banget pembahasannya, tapi untungnya, gua udah pernah nulis artikel yang secara khusus ngebahas tentang gimana caranya kita supaya bisa manfaatin waktu secara optimal. Selain itu, Sabda juga udah pernah ngebahas time-management ini di Buat lo yang punya masalah dalam kedisiplinan dan cara mengatur waktu, gua saranin buat baca artikel dan video berikut di bawah ini Artikel & Video Rekomendasi Masalah Belajar 6 Apa sih yang Membuat Kita Bisa Konsisten dengan Komitmen Kita? Gimana sih Cara Manfaatin Waktu Secara Optimal? Time Management Skill ———–****———– Okay, demikianlah pembahasan gua tentang masalah utama dalam belajar dan juga beberapa tips dan link referensi yang moga-moga bisa jadi solusi yang tepat buat gaya belajar lo. Apa yang gua tulis di sini, mungkin gak akan bisa lo praktekan secara instant dalam proses belajar lo hari ini atau besok. Gua yakin lo emang butuh waktu dan proses yang gak sebentar, untuk bisa mulai mengubah paradigma lo dalam memaknai esensi dari belajar itu sendiri, ngubah cara belajar lo jadi lebih efektif. Mulai belajar menyukai pelajaran yang sebelumnya lo benci setengah mati, mulai disiplin dalam mengatur waktu, dan sebagainya. Tapi pada intinya, gua harap tulisan gua ini bisa jadi modal patokan buat lo, untuk bisa mengatasi berbagai masalah lo dalam belajar. Okei? Anyway, mungkin ada beberapa di antara lo yang baca tulisan ini yang skeptis dan ragu. Emang bisa yah, belajar itu nggak jadi beban dan malah bisa dinikmati? Emang bisa yah kita jadi suka sama pelajaran yang selama ini kita benci? Apa betul kalo cara teknik belajar yang diajarin zenius itu bisa bener-bener ngaruh? Emangnya ada yah orang yang mau belajar tanpa mikirin soal nilai akademis? Kalo bukan nilai akademis, terus apa dong standard atau indikator yang tepat dalam menunjukan kalo cara belajar kita udah tepat? Naaahh… semua pertanyaan dan keraguan lo itu, mungkin bisa kita lihat aja sama-sama buktinya dengan ngeliat beberapa potongan screenshoot mention audience twitter zenius yang gua tunjukin di bawah ini. Kalo gambarnya terlalu kecil dan gak kebaca, tinggal klik aja gambarnya, nanti otomatis open new tab. Gimana, udah baca semua potongan mention audience zenius twitter di atas? Dari situ, gua cuma mau buktiin ke lo aja, bahwa apa yang selama ini zenius perjuangkan, untuk mengubah paradigma para pelajar di seluruh Indonesia dalam memaknai belajar, sedikit banyak udah mulai menuai hasil positif. 🙂 Ketika lo ngerasa belajar itu sesuatu yang asik, seru, menyenangkan, dan bahkan bikin lo ketagihan. Ketika lo yang tadinya anti sama mata pelajaran tertentu terus berubah malah jadi cinta. Ketika lo belajar nggak kenal waktu sampai berjam-jam tanpa disuruh sama siapa-siapa. Ketika lo malah lebih milih belajar waktu jam kosong di kelas pas guru nggak masuk kelas, di waktu liburan atau bahkan waktu UAS baru aja beres… Itulah indikator yang menurut gua jauh lebih merepresentasikan BELAJAR yang sesungguhnya. Itulah yang menunjukan bahwa lo udah melihat belajar bukan lagi sebuah proses “studying” melainkan proses “learning“. Itulah yang membedakan yang namanya pelajar, dengan yang namanya seorang PEMBELAJAR. Mungkin indikator seperti ini emang nggak betul-betul bisa diukur secara presisi sebagaimana nilai akademis. Tapi gua yakin, para pembelajar yang nama-namanya terpampang dalam screenshoot di atas, telah memperoleh sesuatu yang jaauuuh lebih berharga daripada hanya sekedar nilai akademis doang, yaitu The Joy of Learning! 🙂 Catatan Editor Mau ngasah otak dan kemampuan berpikir lo? Nih, cobain Zencore! Dengan fitur adaptive learning dan latihan soal CorePractice, lo bisa tingkatin skill matematika, bahasa Inggris, sekaligus verbal dan logika. Ketuk banner di bawah buat mulai cobain! Oh iya, kalo ada di antara lo yang pengen tau cara jitu belajar yang cuman dimiliki sama Zenius, lo bisa langsung cek video YouTube di bawah ini ya
Bandung IDN Times - Berdasarkan studi terbaru dari Boston University, mahasiswa menjadi kelompok paling rentan mengalami depresi dan stres. Karena itu, kesehatan mental menjadi isu penting untuk tidak dianggap sepele bagi mahasiswa. Dalam webinar Kampus Sehat Jiwa yang digelar Sabtu(20/11/2021), Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa, Elvine Gunawan
Home Gen News Sabtu, 24 Oktober 2020 - 1120 WIBloading... Mahasiswa dirundung banyak masalah dalam menyeimbangkan kehidupan kampus dengan kehidupan pribadi. Foto/Shutterstock A A A JAKARTA - Para mahasiswa mengungkapkan masalah-masalah perkuliahan yang sering dialami, dan Dr. Rena Latifa, psikolog sekaligus Ketua Program Studi Psikologi S1 UIN Syarif Hidayatullah mencoba memberikan MANAJEMEN WAKTUFoto Dr RenaSolusinya, buatlah skala prioritas. Ini bisa disusun berdasarkan tingkat urgensi, kemampuan diri, kesempatan yang dimiliki, serta pertimbangan masa depan yang ingin dicapai. Lakukan segera kalau penting dan mendesak, rencanakan kalau gak penting tapi mendesak. Minta bantuan kalau penting, tapi gak begitu mendesak, dan tunda atau tinggalkan kalau gak penting dan gak MASALAH FINANSIALFoto MNC SekuritasCatat pengeluaran sehari-sehari dengan mempertimbangkan kebutuhan masing-masing. Cari alternatif pemasukan, tapi tetap fokus pada jadwal kuliah. Baca Juga 3. KOMPETENSI DAN KETERAMPILANFoto CzannerAtur waktu dengan baik supaya bisa menambah kegiatan yang bisa meningkatkan keterampilan. Mulai dari hobi atau pada skala prioritas yang harus dikerjakan dan KONFLIK BATIN MENGHADAPI DOSENFoto ShutterstockUbah pola pikir. Pengalaman mengelola relasi dengan dosen adalah pengalaman berharga sebagai bekal menghadapi otoritas di dunia kerja. Kalau masih susah, bisa mencoba meningkatkan kapasitas diri dalam mengutarakan pendapat dan belajar berkomunikasi dengan baik. Jangan asyik dengan prasangka pribadi yang belum tentu benar. Ingat,“Tak kenal maka tak sayang”.5. PERUBAHAN JADWAL PERKULIAHANFoto ShutterstockSeperti halnya poin pertama, semua dikembalikan pada skala prioritas. Sebagai mahasiswa, maka jadikan kuliah sebagai DEADLINE DAN KUIS DADAKANFoto Getty ImagesBelajar adalah bekerja keras. Jadi tantangan dan tugas apa pun dari dosen harus selalu siap dan anggap sebagai proses tempaan. Ingat, cara belajar di universitas nantinya akan membentuk sikap dan profesionalitas dalam dunia ADAPTASI LINGKUNGAN kampus mahasiswa masalah mahasiswa kampus dan universitas Baca Berita Terkait Lainnya Berita Terkini More 4 jam yang lalu 6 jam yang lalu 8 jam yang lalu 9 jam yang lalu 11 jam yang lalu 12 jam yang laluSejakmahasiswa baru sebaiknya perlu dibentuk karakternya melalui kegiatan kemahasiswaan, kurikulum di perguruan tinggi yang memberikan ruang untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan dapat
Ilustrasi mahasiswa belajar KalderaNews/Ist JAKARTA, – Mahasiswa merupakan pelajar tingkat tertinggi. Pelajar SMP dan SMA pasti telah lama mengidam-idamkan menjadi mahasiswa. Namun, setelah menjadi mahasiswa bukan berarti tidak mengalami masalah. Menjadi mahasiswa tidak selalu mudah. Selalu ada saja tantangan dan masalah yang akan muncul di dunia perkuliahan. Permasalahan ini yang biasanya dapat menghambat masa studi di perguruan tinggi. BACA JUGA 5 Tips Atur Keuangan Jitu untuk Mahasiswa Boros Tips Tetap Sehat di Musim Hujan buat Anak Sekolah dan Mahasiswa Ternyata Ini Rahasia Semangat Belajar Anti Kendor Buat Pelajar dan Mahasiswa Tip Sederhana Kuliah Hybrid yang Harus Diketahui Mahasiswa Generasi Pandemi Tidak ada masalah yang tak ada jalan keluarnya. Selama kamu masih optimis, solusi dari permasalahanmu pasti selalu ada. Inilah 7 masalah yang sering dihadapi mahasiswa beserta alternatife solusinya. Cekidot, gaes! Konflik batin dengan dosen Masalah satu ini banyak dialami oleh mahasiswa. Konflik ini akan meningkat kejadiannya saat telah masuk ke penulisan skripsi. Agar masalah ini tidak runcing, usahakan untuk membangun komunikasi yang baik dengan dosen dan pastikan kamu dapat menempatkan diri dengan baik saat berkomunikasi dengan para dosen tersebut. Masalah waktu Banyaknya kegiatan yang diikuti, tidak jarang perihal mengatur waktu menjadi sebuah masalah tersendiri bagi mahasiswa. Kesulitan yang dihadapi adalah tidak dapat memilih prioritas kegiatan, akibatnya banyak hal yag harus dikorbankan. Agar tidak terjebak pada permasalahan ini, kamu harus benar-benar membuat skala prioritas, ya. Buatlah tingkat urgensi dari pemasalahan ini, agar kamu tidak terjebak dalam kesulitan mengatur waktu. Masalah keuangan Masalah keuangan juga kerap melanda mahasiswa. Kehabisan uang saku menjelang akhir bukan menjadi masalah yang umum terjadi. Solusi yang dapat kamu lakukan adalah membuat pos-pos keuangan saat awal bulan atau saat kiriman dari orang tua baru datang. Selain itu, kamu dapat juga mencoba mencari pekerjaan paruh waktu yang dapat kamu kerjakan di sela-sela waktu kuliah. Nilai turun Permasalahan ini pasti meresahkan. Nilai yang terus menerus turun pasti akan membuat semangat kendur. Untuk mengatasi hal ini, coba ubah cara belajarmu dan lakukan sengan rutin. Pastikan kamu belajar dengan efektif. Emosi tak terkendali hingga depresi Hati-hati dengan masalah satu ini. Karena bila kamu tidak dapat menahan emosi, bisa fatal akibatnya. Banyak hal yang memang memicu emosi, tetapi tidak semua hal harus dilampiaskan melalui emosi. Carilah teman yang dapat kamu ajak berbagi cerita agar emosimu tidak meluap. Stres pada mahasiswa itu juga wajar. Namun, jangan sampai kewajaran ini dianggap biasa saja dan dibiarkan. Karena akan berkembang menjadi depresi. Depresi yang berkepanjangan tentu akan mengganggu perkuliahan mu. Pastikan setiap stresmu tertangani dengan baik agar tidak menjadi depresi, ya. Adaptasi lingkungan Memasuki dunia perguruan tinggi memang berbeda dengan dunia sekolah. Selain adaptasi dengan dengan suasana baru, adaptasi dengan kebiasaan, pola belajar, dosen , teman yang beragam, seorang mahasiswa juga perlu beradaptasi dengan dirinya sendiri mengenai berjal bertanggung jawab atas dirinya sendiri, ramah di pergaulan tetapi tetap menjaga dari arus negatif lingkungan. Deadline tugas dan kuis dadakan Dunia perkuliahan merupakan latihan menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya. Maka setiap tugas dan tantangan dari dosen harus dianggap sebagai proses penempaan diri. Bila terbiasa dengan kebiasaan ini, kamu akan siap menghadapi dunia kerja yang keras. Dari tujuh masalah yang sering terjadi pada mahasiswa itu, kira-kira mana yang dapat mengancammu kelak bila telah masuk ke dunia perguruan tinggi? Lakukan persiapan dengan baik dan antisipasi dengan cermat ya. Good luck! Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News *Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan Silakan hubungi WA 0812 8027 7190 atau email kalderanews
Sebagaicontoh Pertanyaan Wawancara dengan Pakar dalam Eksplorasi Masalah dan Solusinya, kita merujuk pada hasil identifikasi masalah yang telah di lakukan sebelumnya.
Terlihat Sepele, Inilah 4 Masalah Yang Dialami Mahasiswa Saat Ujian Skripsi - Menjadi mahasiswa semester akhir tentu sedang mengalami kesibukan yang tak terkira. Mulai dari praktek kerja lapangan PKl, kuliah kerja nyata KKN dan praktek pengalaman lapangan PPL. Hal itu memang tetlihat menyenangkan. Tapi tahu tidak jika dibalik keceriaan yang mereka tunjukkan, ternyata mereka juga dilanda tekanan batin. Bagaimana tidak, ditengah kesibukannya praktek sana sini mereka harus juga memikirkan rencana untuk skripsi mereka. Tak heran jika banyak yang jatuh sakit ketika masa-masa ini. Untuk merencanakan lulus teat waktu, tak heran mereka banyak yang mengorabnkan waktu bersama keluarga dan tak banyak juga yang mengabaikan tentang keseriusan dalam penggarapan skripsi sehingga berakibat fatal ketika sedang ujian skripsi. Sehingga banyak masalah yang dialami mahasiswa saat ujian skripsi. Untuk penggarapan skripsi memang sangat tak mudah, apalagi banyak membutuhkan narasumber dan bimbingan dari dosen bukan? Bukan hanya itu, mahasiswa biasanya juga mengalami kesulitan ketika menghadap untuk ujian skripsi. Banyak faktor dan permasalahan yang dihadapi, salah satunyaGrogiGrogi adalah satu hal yang biasa terjadi pada setiap manusia. Anda pernah tampil di depan umum? Apa yang terjadi? Deg-degan, resah hingga nervous. Begitu pula saat ingin melakukan sidang skripsi. Inilah salah satu masalah yang dialami mahasiswa saat ujian skripsi. Saat memasuki ruang ujian, mahasiswa biasanya sudah dihantui rasa takut dan gelisah. Bahkan itu terjadi dari mulai sebelum masuk ke ruangan. Dalam menanggapi ini, Anda tidak perlu melakukan banyak hal apalagi mengeluarkan banyak uang untuk mengatasinya. Karena grogi atau nervous ini bisa dikendalikan dengan cara menenangkan diri dan yakin bahwa Anda sudah siap dengan semua materi yang akan menjadi bahan Menjawab Pertanyaan dari DosenSalah satu penyebab terjadinya kesalahan dalam menjawab pertanyaan dari dosen adalah grogi. Nah ketakutan yang disebabkan karena takut diberikan pertanyaan yang investigatif dari dosen sehingga terjadilah kesalahan dalam menjawab bahkan keluar dari konteks yang ditanyakan oleh dosen penguji masalah yang dialami mahasiswa saat ujian skripsi. Namun Anda tidak perlu khawatir, biasanya ketika Anda salah dalam menjawab maka dosen akan membantu mengembalikanmu pada konsep dan teori yang benar. Dosen biasanya memberikan pertanyaan-pertayaan hanya untuk sekedar menguji Anda, seberapa paham dan mengerti terhadap hasil skripsi yang Anda dengan Pertanyaan yang SulitMasih ada hubungannya dengan point diatas, hal ini menjadi masalah yang dialami mahasiswa saat ujian skripsi yang banyak ditakuti oleh mahasiswa. Tapi, sadar tidak sih bahwa tidak ada pertanyaan yang sulit. Hanya saja Anda kurang menguasai materi skripsimu. Dan juga jangan terlalu merasa takut karena itulah yang akan menjadi boomerang buat Anda. Asal Anda sudah mempelajari semua isi skripsimu dengan baik dan benar, maka Anda juga akan mudah dalam proses satu hal lagi yang perlu diperhatikan, jangan pernah menganggap sepele mata kuliah yang ada, apalagi mata kuliah dasar karena itu sangat Anda butuhkan nantinya ketika sedang ujian skripsi. Lupa referensiTerkadang dosen penguji mempertanyakan hal yang sangat sepele seperti meminta Anda menyebutkan referensi dari hasil riset yang Anda buat. Menghafal semua referensi memang tidaklah mudah. Apalagi untuk skripsi, karena banyak membutuhkan referensi sehingga mahasiswa terkadang lupa dimana letak referensi A digunakan dan sebagainya. Ini juga salah satu masalah yang dialami mahasiswa saat ujian skripsi agar Anda ingat tempat referensi A digunakan yaitu dengan membacanya bersamaan dengan sesi mempelajari skripsi Anda secara utuh. Dan jangan lupa juga untuk membawa sumber referensi pada saat ujian skripsi untuk menunjukkan buktinya kepada dosen beberapa masalah yang dialami mahasiswa saat ujian skripsi. Langkah terbaik untuk mengusir masalah-masalah itu adalah dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin mulai dari belajar hingga berdoa serta meminta restu orang tua. Dan jangan lupa untuk mengendalikan emosi agar tidak grogi. So, jadikan ujian skripsi menjadi langkah awal menuju kesuksesan.PandemiCovid-19 dan Masalah Sosial. 7 April 2020 11:40 am. Covid-19 atau yang lebih dikenal dengan virus korona saat ini telah menjadi ancaman global dan sudah cukup terlambat untuk diantisipasi karena penyebarannya yang sudah semakin masif. Di wilayah Sumatera Barat sendiri tercatat 17 kasus terkonfirmasi positif, dengan 73 orang pasien dalam
Ilustrasi masalah kuliah online yang dihadapi mahasiswa. Foto Getty Images/Igor Alecsander Jakarta - Metode perkuliahan dengan berbasis web dan seminar webinar, atau biasa disebut kuliah secara online kini diterapkan seluruh kampus di tanah air seiring dengan adanya pandemi Corona. Kuliah daring yang memanfaatkan kecanggihan teknologi ternyata menemui berbagai hambatan. Para mahasiswa mengungkapkan keluh-kesahnya selama menjalani kuliah online."Kuliah online bukannya nilai makin bagus, malah makin ***. Kuota abis, ilmu ga dapet, tugas numpuk, begadang tiap hari tp nilai kek setan," unggahnya pada Senin 22/6/2020.Tweet mahasiswa bernama Amanda itu disambut meriah mahasiswa lainnya yang bernasib serupa. Hingga kini tweet tersebut sudah di-retweet lebih dari kali dan diserbu lebih dari komentar. Merangkum curhatan para mahasiswa yang diwawancara Wolipop, berikut tujuh masalah kuliah online1. Komunikasi dosen dan mahasiswaKuliah online menyebabkan komunikasi antara mahasiswa dan dosen mengalami kendala teknis. Hal ini dialami Amanda, salah satu mahasiswa di Padang, Sumatera Barat."Hambatan dalam kuliah online sih salah satunya itu komunikasi dan hubungan antara dosen dan mahasiswa rada sulit. Semua dosen selalu berpendapat dan merasa kalau semua tugas bisa dipahami dengan mudah," ujar yang sama diungkapkan Intan Khairani Afifah, mahasiswi asal Yogyakarta yang kuliah di jurusan pendidikan bahasa Jerma. Ia mengaku selama kuliah online mendapatkan sedikit ilmu atau materi yang diberikan oleh dosen."Selama kuliah online ini sedikit banget ilmu dari perkuliahan dosen yang benar-benar masuk gitu. Karena banyak dari mereka yang nggak jelasin apa-apa. Bahkan ada dosen yang nggak pernah mengajar selama online class terus tiba-tiba aja UAS gitu. Jadi aku ngimbanginnnya belajar mandiri lebih rajin lagi daripada kelas offline. Apalagi aku kan jurusan bahasa Jerman dan ada mata kuliah speaking gitu kan. Nah, susah deh tuh interaksinya soalnya beda jam juga kan sama dosennya yang di Jerman," tuturnya Susah sinyalPermasalahan sinyal kerap dihadapi rekan-rekan Amanda. Apalagi dirinya dan teman-temannya notabene tinggal bukan di kota besar seperti Jakarta."Bukan aku si karena di rumahku sinyalnya lumayan bagus. Tapi buat teman-temanku yang tinggal di desa kasihan. Mereka bisa ketinggalan kuliah dan ambil absen tiap pagi karena harus cari tower dulu. Dosen kadang pake aplikasi Zoom yang butuh sinyal kuat, tapi dosen tidak menyadari kalau semua orang nggak bisa akses itu dengan mudah. Kasarnya sih dosen-dosen nggak pengertian," kisah Amanda saat dihubungi oleh Wolipop, Selasa 23/6/2020.Permasalahan sinyal pun dialami mahasiswa yang tinggal di kota besar seperti penuturan Amir Hafizh Islami atau biasa disapa Hafiz. Mahasiswa yang kuliah di Universitas Gunadarma, Depok jurusan psikologi itu mengatakan jika koneksi sering buffering karena banyaknya mahasiswa,"Koneksinya kadang buffering soalnya 1 kelas bisa 25 orangan saat kuliah online."Curhat soal sinyal juga diungkapkan Rahma Nur Faizah, atau biasa dipanggil Rahma yang kuliah di salah satu sekolah tinggi bahasa di Bekasi. "Ketika dosen menerangkan materi suaranya jadi hilang hilangan kalau koneksinya lagi lambat. Nah kalau sudah kaya gitu murid jadi susah menangkap apa yang dosen terangkan," kata mahasiswi jurusan Sastra Inggris jauh berbeda, Intan Khairani Afifah, mahasiswa jurusan pendidikan bahasa Jerman di Universitas Negri Yogyakarta UNY juga menyampaikan hal serupa. "Wifi rumah suka lemot. Apalagi pas awal-awal sebelum dapet subsidi kuota dari kampus," ujar masalah kuliah online. Foto Getty Images/wundervisuals3. Mata kuliah yang saling bentrokKomunikasi yang tidak lancar antara dosen dan mahasiswa, bisa menimbulkan beberapa masalah seperti jadwal mata kuliah yang jadi tak beraturan dan waktu perkuliahan yang tak sesuai jadwal. Seperti pengalaman Ferdy, mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang."Jadwal mata kuliah nggak sesuai bahkan sering tabrakan. Kan sehari ada 2-3 mata kuliah, nah kadang dosen suka mulai perkuliahan nggak sesuai jadwal, ngaret jadi nabrak ke jadwal mata kuliah yang lain," ucapnya saat wawancara dengan Wolipop lewat Whatsapp, Rabu 24/6/2020.4. Semangat belajar menurunKuliah daring yang mewajibkan para peserta didik untuk kuliah dirumahaja, menimbulkan rasa jenuh. Seperti yang dirasakan oleh Rahma Nur Faizah, atau biasa disapa Rahma, mahasiswi jurusan Sastra Inggris salah satu kampus bahasa di kalo di rumah aja beda pasti vibesnya sama di kampus. Dan kalau aku biasanya di kelas prakteknya pake bahasa Inggris jadi terlatih. Nah, pas kuliah online jadi terhambat karena sudah lama nggak ngobrol pakai bahasa Inggris di kelas," jelasnya saat dihubungi oleh Wolipop, Jumat 26/6/2020.Rasa jenuh juga dirasakan Julian, mahasiswa jurusan keperawatan di salah satu universitas di Solo. Julian merasa seharusnya dosen bisa menggunakan metode yang lebih menarik saat memberikan mata kuliah secara online."Pastinya banyak sekali metode pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif yang bisa dilakukan, tapi nyatanya hampir semua dosen lebih memilih metode yang hanya menurut mereka mudah dan tidak menguras tenaga," Tertinggal materi perkuliahanSelain semangat belajar yang menurun, Julian juga menuturkan dia dan rekan-rekannya kerap tertinggal mata kuliah karena terbentur koneksi internet. Dan dosen atau pihak kampus tak memberikan mereka alternatif lainnya."Beberapa mahasiswa terkendala dengan jaringan tapi dari dosen tidak diberikan alternatif lain untuk mencover kendala tersebut, seperti diberikan e-book, video, konsul personal via WhatsApp, atau kata Julian, jika dia ketinggalan materi maka akan menjadi tanggung jawab dan urusannya sendiri. Si mahasiswa yang harus mencari materi perkuliahan yang tertinggal Metode mengajar dosenIntan Khairani Afifah mengatakan dosen mempunyai bermacam-macam metode dalam kuliah online. Hal ini membuat dia dan teman-temannya harus cepat beradaptasi dengan metode yang berbeda-beda itu."Jadi selama kuliah online itu dosen macem-macem metodenya. Ada yang cuma diskusi di WhatsApp Group atau di Hangout, ada juga yang cuma ngasih tugas via Google Classroom aja. Terus awal-awal online class itu banyak mata kuliah yang nyoba lewat Zoom, tapi ternyata kurang efektif. Soalnya kehalang sama jaringan dan mahasiswanya yang pada diem-diem aja gitu selama kuliah. Malahan ada yang sengaja join absen terus keluar gitu aja. Ya sebenernya enak sih bisa belajar sambil nyantai. Tapi banyakan mahasiswanya jadi ngegampangin kuliah gitu loh," ujarnya Belajar jadi kurang efektifKendala berikutnya yang dirasakan oleh para mahasiswa adalah mereka merasa kuliah online kurang efektif karena tak saling bertatap muka secara langsung. Hal ini diungkapkan oleh Rahma."Penyampaian materinya agak terganggu kalau koneksi internetnya lagi nggak stabil jadi kita sebagai murid nangkepnya nggak maksimal. Contohnya aku dari jurusan Sastra Inggris ada mata kuliah listening, nah biasanya di kelas itu diperdengarkan audionya secara langsung. Nah sekarang audionya yang dishare suka nge-lag dan jadi ganggu banget," bagi kamu para mahasiswa, mana dari tujuh masalah kuliah online di atas yang kamu alami? Simak Video "Kerennya Aksi TIFAL, Band Mahasiswa Berkebutuhan Khusus" [GambasVideo 20detik] gaf/eny